Kemampuan membaca pada tiga tahun pertama sekolah dasar merupakan fondasi yang menentukan keberhasilan belajar anak di jenjang berikutnya. Namun, perkembangan teknologi telah mengubah cara anak berinteraksi dengan informasi. Paparan gawai, video pendek, dan konten digital yang serba cepat membuat minat membaca buku menurun serta memunculkan pertanyaan mendasar tentang makna “bisa membaca”. Membaca tidak cukup hanya mampu mengeja, tetapi juga harus mencakup kemampuan memahami isi bacaan sebagai dasar berpikir dan belajar di berbagai mata pelajaran.
Guru kelas awal kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari menurunnya minat membaca buku, ketergantungan anak pada gawai, rentang konsentrasi yang lebih pendek, kesenjangan kemampuan membaca dalam satu kelas, hingga ekspektasi orang tua agar anak cepat mampu membaca. Kondisi tersebut menuntut guru tidak hanya mengajarkan teknik membaca, tetapi juga menjadi fasilitator yang mampu menumbuhkan minat literasi sekaligus menjembatani pengaruh dunia digital terhadap proses belajar anak.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pembelajaran membaca perlu dirancang lebih menarik melalui cerita bergambar, permainan literasi, lagu, drama sederhana, serta pemanfaatan teknologi yang mendukung pemahaman bacaan. Kebiasaan membaca setiap hari dan kolaborasi yang kuat antara sekolah dan orang tua juga menjadi kunci keberhasilan. Pada akhirnya, peningkatan literasi memerlukan dukungan sistem pendidikan yang mengutamakan pemahaman, bukan sekadar kelancaran mengeja, sehingga anak-anak tumbuh menjadi pembaca yang kritis, mampu bernalar, dan mencintai kegiatan membaca.
