PISA 2025 sebaiknya tidak dibaca semata-mata dari peringkat Indonesia, karena peringkat bersifat relatif dan dapat berubah akibat kinerja negara lain. Yang lebih penting adalah melihat kemampuan nyata peserta didik. Data menunjukkan masih terdapat persoalan mendasar: hanya 37% siswa mencapai kompetensi minimum dalam sains, 27% dalam membaca, dan 17% dalam matematika. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai level tertinggi dalam matematika dan sains, maupun dalam membaca, yang menunjukkan masih lemahnya kemampuan menghadapi persoalan kompleks dan menggunakan pengetahuan dalam situasi baru.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan pendidikan Indonesia bersifat ganda, yakni meningkatkan sebanyak mungkin siswa agar menguasai kompetensi dasar, sekaligus mendorong siswa yang sudah menguasainya menuju kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Kemampuan bernalar tidak dapat dibangun hanya dengan memberikan soal yang lebih sulit, tetapi membutuhkan fondasi berupa pemahaman bacaan, penguasaan konsep, kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menerapkan pengetahuan. Karena itu, pembelajaran mendalam perlu diarahkan agar siswa tidak sekadar menghafal, tetapi mampu memahami, mengaplikasikan, bernalar, dan merefleksikan proses belajarnya.
Hasil PISA 2025 semestinya diterjemahkan menjadi perbaikan nyata di ruang kelas, bukan sekadar bahan perdebatan mengenai peringkat. Pembelajaran mendalam hanya akan efektif jika disertai penguatan kompetensi guru, perbaikan asesmen, lingkungan belajar yang kondusif, pemanfaatan teknologi secara tepat, serta ruang bagi siswa untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaikinya. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak seharusnya diukur dari kenaikan peringkat PISA semata, tetapi dari semakin banyaknya anak yang mampu membaca dengan pemahaman, berhitung dengan nalar, memahami sains, memilah informasi, dan memecahkan persoalan baru untuk menghadapi masa depan.
