Kenaikan harga bahan baku plastik di Indonesia dipicu oleh konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada terganggunya pasokan minyak dunia, terutama akibat penutupan Selat Hormuz. Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menyatakan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor biji plastik, sehingga gejolak global sangat memengaruhi harga domestik.
Pemerintah memastikan bahwa pasokan bahan baku untuk industri plastik dan manufaktur tetap terjamin, meskipun terjadi lonjakan harga. Namun, pelaku industri mengeluhkan kenaikan harga biji plastik yang signifikan hingga mencapai 100 persen dalam satu bulan terakhir, yang mulai berdampak pada biaya produksi.
Akibat kenaikan tersebut, banyak pengusaha plastik terpaksa mengurangi kapasitas produksi dan berpotensi menaikkan harga produk di pasar. Jika kondisi ini berlanjut, daya beli masyarakat dapat menurun dan berisiko menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas. Pelaku usaha mendesak pemerintah untuk tidak hanya menjamin pasokan, tetapi juga menstabilkan harga bahan baku.
