Pemerintah bersama DPR RI sepakat menaikkan volume dan anggaran subsidi energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy menduga peningkatan ini sebagai output perbaikan data pemerintah, terutama dari data dua tahun ke belakang. Rendy memperkirakan dari output data tersebut pemerintah menyadari terdapat golongan masyarakat yang seharusnya dalam kategori layak menerima subsidi, namun pada periode sebelumnya malah kalah saing oleh yang tidak berhak.
“Ini menyebabkan adanya perbaikan data sehingga kemudian mereka dimasukkan dalam calon penerima anggaran subsidi,” ujar Rendy, Minggu (18/6). Sehingga, bertambahnya database masyarakat ini membuat volume subsidi energi juga meningkat. Rendy menilai volume subsidi yang dirancang relatif sudah mencerminkan kondisi Indonesia ke depan.
Adapun, dalam RAPBN 2024 ditetapkan volume BBM Bersubsidi sebesar 18.735 hingga 19.580 juta Kilo Liter (KL), meningkat daripada APBN 2023 yang sebesar 17,50 KL, sementara volume LPG Bersubsidi dipatok sebesar 8,20 juta ton hingga 8,30 juta ton, meningkat daripada 8,00 juta ton.