Vaksin Lengkap Dan Kejadian Campak

Lonjakan kasus campak di ­Indonesia yang mencapai 8.224 suspek dalam dua bulan pertama 2026. Berdasarkan data epidemiologi per 23 Februari 2026, Indonesia mencatat 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) di 17 kabupaten atau kota di 11 provinsi. Untuk menghentikan transmisi virus, diperlukan cakupan imunisasi minimal 95 persen guna membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Data ilmiah menunjukkan efikasi vaksin campak lengkap dua dosis mencapai sekitar 97 persen. Artinya, seseorang yang sudah mendapat vaksinasi lengkap masih memiliki kemung­kinan sekitar 3 persen untuk tetap terkena campak.

Namun, data lapangan kadang menunjukkan situasi berbeda. Seperti dua kasus campak di Australia pada penumpang pesawat dari Jakarta yang dilaporkan baru-baru ini, ternyata telah menerima vaksin campak lengkap dua kali, tetapi tetap terinfeksi campak. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dalam laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta laporan rutin provinsi (MR-02) per 28 Februari 2026 mencatat 572 kasus campak terkonfirmasi laboratorium sepanjang 2026. Artinya, diagnosis tidak hanya berdasarkan gejala klinis. Dari 572 kasus tersebut, sekitar 67 persen belum pernah menerima imunisasi sama sekali. Kondisi ini membuat mereka sangat rentan tertular dan akhir­nya mengalami penyakit ­campak.

Namun, data yang sama juga menunjukkan sekitar 15 persen dari kasus campak pada 2026 terjadi pada individu yang telah menerima vaksinasi dua kali atau lebih. Situasi ini perlu dianalisis agar program vaksinasi dan pengendalian campak dapat ditingkatkan di masa mendatang. Setidaknya ada lima kemungkinan penjelasan mengapa seseorang yang telah divaksinasi lengkap tetap dapat mengalami campak, yaitu:

  1. efikasi vaksin campak sekitar 97 persen sehingga memang tidak mencapai 100 persen. Artinya, secara statistik masih ada kemungkinan sekitar 3 persen penerima vaksin tetap dapat terinfeksi.
  2. Dapat terjadi penurunan kadar antibodi pada sebagian orang walaupun sudah divaksinasi.
  3. paparan virus yang sangat intens dan berlangsung lama juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang tetap terinfeksi.
  4. tidak tertutup kemungkinan terjadi perubahan atau mutasi pada virus sehingga sebagian imunitas yang dihasilkan vaksin menjadi berkurang.
  5. Faktor yang juga ­sangat penting adalah mutu vaksin yang diberikan. Distribusi vaksin harus selalu dijaga pada suhu tertentu melalui sistem ­rantai dingin atau cold chain.

Search