Trump Mengira Pembukaan Selat Hormuz Sudah Dekat, tapi Iran Punya Rencana Lain

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump selama berminggu-minggu dilaporkan tengah bersiap untuk mengumumkan kemenangan dalam konflik melawan Iran jika Selat Hormuz sepenuhnya dibuka kembali. Namun, opsi keluar yang diincar Washington kini kian sulit terwujud setelah Teheran mengajukan daftar tuntutan yang sangat berat demi mengizinkan lalu lintas bebas di koridor maritim strategis tersebut. Hal ini menandakan, Iran siap menjalani konflik berkepanjangan yang melelahkan. Direktur Program Timur Tengah di CSIS, Mona Yacoubian menilai, syarat dari Teheran semakin menyulitkan Trump untuk menciptakan opsi mundur yang dapat menyelamatkan mukanya di hadapan publik. 

Di sisi lain, pengamat Iran dari Eurasia Group, Gregory Brew menggarisbawahi bahwa Teheran memanfaatkan dorongan kuat Trump yang ingin segera mengakhiri konflik untuk menaikkan posisi tawar mereka dalam perundingan. Prospek kesepakatan disebut kian memburuk setelah Uni Emirat Arab mengonfirmasi serangan rudal Iran terhadap salah satu kapalnya. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, secara terbuka membeberkan deretan syarat mutlak bagi AS jika ingin Selat Hormuz dibuka. Tuntutan tersebut meliputi pengakhiran perang secara permanen, pencabutan sanksi dan blokade laut, penarikan pasukan AS dari kawasan, pengembalian aset yang dibekukan, hingga pembayaran ganti rugi perang atas kerusakan yang terjadi.

Bagi Trump, dinamika ini membawa beban politik yang cukup besar menjelang pemilu paruh waktu di AS.  Wakil Presiden AS, JD Vance menegaskan, AS akan terus memberikan tekanan ekonomi dan militer guna memastikan kelancaran pasokan energi dunia, sekaligus menekan harga gandum dan bahan bakar bagi masyarakat Amerika. Mengenai kekhawatiran program nuklir, Trump secara pribadi meyakini bahwa Teheran tidak akan mampu membangun kembali tiga situs nuklir utamanya yang telah dihancurkan oleh serangan AS. 

Search