Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyerukan warga Iran untuk terus melakukan aksi protes di tengah tindakan keras aparat keamanan yang menewaskan ribuan orang. Dalam pernyataan terbarunya, Trump bahkan menjanjikan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” bagi para demonstran. Sikap Trump tersebut muncul di tengah laporan kredibel tentang melonjaknya jumlah korban tewas akibat penindasan demonstrasi di Iran. Trump juga menyatakan telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga apa yang ia sebut sebagai “pembunuhan tanpa alasan” terhadap para demonstran dihentikan.
Pernyataan Trump muncul di tengah laporan yang semakin kuat bahwa hingga 2.000 warga Iran telah tewas dalam gelombang protes. Demonstrasi sempat mereda sehari sebelumnya akibat kerasnya penindakan, namun dukungan terbuka Trump dikhawatirkan akan kembali memicu gelombang aksi. Selain itu, Trump mengumumkan tarif sebesar 25 persen terhadap negara mana pun yang masih melakukan perdagangan dengan Iran. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, mengatakan Beijing akan “mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah”. Negara mitra dagang besar Iran lainnya meliputi Irak, Uni Emirat Arab, dan Turki. Rusia juga mengkritik tekanan AS terhadap Teheran.
Aksi protes di Iran awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi yang parah, namun kini berkembang menjadi tuntutan terbuka untuk menjatuhkan pemerintahan ulama yang telah lama berkuasa. Otoritas Iran menanggapi dengan penangkapan massal, pemadaman internet, serta peringatan bahwa partisipasi dalam demonstrasi dapat berujung pada hukuman mati. Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyatakan keyakinannya bahwa rezim Iran berada di ambang kejatuhan.
