Harga minyak Brent dan WTI melonjak melewati US$110 per barel setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menimbulkan dilema bagi Indonesia antara membeli minyak dengan harga tinggi atau menghadapi risiko kekurangan pasokan. Impor minyak mentah sebagian besar (≈ 82 %) berasal dari negara yang tidak terdampak konflik, sehingga masalah utama ialah harga, bukan volume. Karena ruang fiskal kini lebih terfokus pada program seperti Makan Bergizi Gratis, pemerintah diperkirakan akan mengalokasikan kembali anggaran untuk mempertahankan subsidi BBM, dengan batas ambang harga dunia (misalnya US$120 per barel) sebagai pemicu penyesuaian harga domestik. Pengamat menilai transisi ke energi baru terbarukan (EBT) memerlukan waktu lama, sementara kebijakan biodiesel B50 tidak mengurangi beban biaya karena CPO lebih mahal daripada minyak mentah; sehingga pilihan strategi energi tetap terbatas antara impor solar mahal atau mengurangi stok bahan bakar.
