Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dapat menjadi bantalan tambahan bagi Bank Indonesia apabila tekanan di pasar valuta asing meningkat. Namun, BCSA bukan instrumen utama untuk memperkuat rupiah secara harian, melainkan jaring pengaman untuk menyediakan akses likuiditas mata uang negara mitra.
Menurut Josua, efektivitas BCSA lebih terlihat dalam menjaga kepercayaan pasar, memastikan ketersediaan pasokan valas, mendukung transaksi perdagangan dan investasi dengan mata uang lokal, serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Meski demikian, penggunaannya perlu dikomunikasikan secara hati-hati agar tidak disalahartikan pasar sebagai tanda cadangan devisa Indonesia sedang tertekan serius.
Josua menegaskan bahwa stabilisasi rupiah tetap membutuhkan kombinasi kebijakan moneter yang tegas, disiplin fiskal, komunikasi kredibel, serta kepastian arah kebijakan. BCSA dinilai sebagai instrumen pelengkap yang dapat memperkuat ketahanan eksternal dan memberikan sentimen positif apabila diposisikan sebagai lapisan pertahanan tambahan.
