Surplus Dagang Menipis, Defisit Transaksi Berjalan RI Terancam Melebar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mengalami penyusutan yang dalam pada April 2026, menjadi hanya sebesar US$90 juta, dari sebelumnya tercatat US$3,32 miliar pada Maret 2026. Kondisi itu dipicu melesatnya impor Indonesia dengan kenaikan 22,49% pada April 2026 menjadi US$25,21 miliar, sedangkan ekspor pertumbuhannya lebih rendah yakni 21,98%. Kenaikan impor ini dipicu oleh tertekannya nilai tukar rupiah yang mengerek nilai barang-barang impor dan kenaikan harga komoditas, terutama minyak dan gas.

Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian. Dia perhatian utama pasar saat ini bukan lagi sekadar besarnya ekspor Indonesia, melainkan kecepatan kenaikan impor migas yang mulai menggerus surplus perdagangan. Dia menuturkan defisit sektor migas Indonesia pada April 2026 mencapai US$3,44 miliar, sementara surplus nonmigas sebesar US$3,53 miliar hampir seluruhnya habis digunakan untuk menutup kebutuhan impor energi. Akibatnya, surplus perdagangan nasional hanya tersisa sekitar US$89 juta.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar pada tahun 2026. “Dengan asumsi ketegangan geopolitik mereda secara signifikan pada paruh kedua tahun 2026, kami memproyeksikan defisit transaksi berjalan (CAD) akan melebar menjadi 1,07% dari PDB pada tahun 2026, dari defisit 0,11% dari PDB pada tahun 2025,” ujar Faisal. Faisal melihat neraca perdagangan Indonesia akan tetap mencatat surplus perdagangan, namun surplus tersebut kemungkinan akan menyempit secara bertahap karena pertumbuhan impor melampaui pertumbuhan ekspor.

Search