S&P Global Ratings menilai peringkat utang Indonesia berada dalam kondisi rentan akibat dampak konflik di Timur Tengah, terutama karena gangguan pasokan energi global. Saat ini, peringkat utang Indonesia berada pada level BBB (stabil), namun dinilai lebih rentan dibandingkan negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Risiko utama berasal dari kenaikan harga energi yang meningkatkan beban subsidi pemerintah, sehingga berpotensi memperlebar defisit fiskal. Selain itu, inflasi yang meningkat dapat mendorong kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pembayaran bunga utang. Impor minyak yang lebih mahal juga diperkirakan memperburuk defisit transaksi berjalan Indonesia.
Di sisi lain, kenaikan harga komoditas seperti kelapa sawit, nikel, kendaraan, dan panel surya memberikan dukungan terhadap ekspor Indonesia. Namun, penurunan ekspor energi seperti batu bara, minyak, dan gas menahan laju pertumbuhan tersebut. Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas dapat membantu meredam tekanan terhadap peringkat utang jika kondisi global kembali stabil.
