Siap-Siap! Bobot Saham Indonesia di MSCI Terancam Dipangkas

Gejolak pasar saham di Indonesia diprediksi belum berakhir pada April 2026. Ada kemungkinan investor asing keluar dari pasar saham domestik. Hal ini menyusul pengumuman terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah merampungkan empat agenda reformasi pasar modal sesuai dengan yang diajukan ke MSCI. Namun aksi ini berpotensi MSCI memangkas bobot saham Indonesia di indeksnya. Padahal, ada saham HSC yang masuk ke indeks MSCI, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Pjs. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menjelaskan ada kemungkinan saham yang sudah masuk dalam indeks global akan dikeluarkan atau diturunkan bobotnya usai transparansi yang dilakukan. Namun Jeffrey meyakini dalam jangka panjang akan baik bagi pasar saham Indonesia dan akan membuat bobot saham-saham Indonesia akan menjadi jauh lebih tinggi di masa mendatang. Berdasarkan catatan IPO Platinum Club, saham yang berada dalam indeks MSCI dan masuk dalam daftar high shareholding concentration berpotensi langsung dikeluarkan oleh MSCI dari indeks dan tidak bisa lagi masuk dalam waktu 12 bulan. Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai pengumuman high shareholding concentration sangat penting karena ini memberikan peringatan kepada investor bahwa suatu saham dimiliki oleh segelintir pihak, sehingga risikonya tinggi. Menurutnya, dalam jangka panjang, kebijakan ini akan membuat kualitas emiten di bursa meningkat karena emiten dipaksa untuk memiliki struktur pemegang saham yang lebih sehat dan free float yang lebih besar. 

Search