Sederet raksasa minyak dan gas (migas) global ramai-ramai menyatakan kenginannya untuk ‘cabut’ dari Indonesia. Keinginan tersebut disampaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pengamat Energi dari Energy Watch Mamit Setiawan menyebut hengkangnya berbagai perusahaan migas dunia disebabkan oleh empat alasan utama. Pertama, iklim berinvestasi RI yang kurang menarik jika dibandingkan dengan negara sekawasan, seperti Malaysia, Thailand, hingga Vietnam. Kedua, minimnya kepastian hukum terutama Revisi UU Migas yang belum selesai. Ketiga, kondisi lapangan migas di Indonesia yang sudah mulai mature atau tua dan masuk fase natural decline di mana hasil eksplorasi tak lagi maksimal. Keempat, kebijakan fiskal yang belum menarik terutama skema pajak bagi hasil masih menjadi kendala yang harus diselesaikan antara KL.
Proyek dan perusahaan yang hengkang dari RI antara lain ConocoPhillips dijual kepada PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Shell memutuskan keluar dari Blok Masela usai mengkaji tingkat keenonomian seluruh portofolio bisnisnya. Dan Chevron melepas pengelolaan proyek gas laut Deep Water Development di Kalimantan Timur ke raksasa asal Italia, ENI, pada tahun lalu.