Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat pada 11 Juni–19 Juli, persiapan turnamen terbesar sepak bola dunia diwarnai berbagai kontroversi. Sorotan utama datang dari mahalnya harga tiket akibat sistem dynamic pricing dan pasar resale yang tidak terkendali, bahkan tiket final disebut mencapai hingga 2 juta dolar AS. Kondisi ini memicu kritik luas dari suporter dan pengamat karena dianggap mengurangi akses publik. Sebagai alternatif, sejumlah kota tuan rumah menghadirkan fan festival gratis di ruang publik, yang mendapat respons sangat tinggi dari penggemar sepak bola.
Di luar aspek penyelenggaraan, faktor geopolitik turut memengaruhi atmosfer menjelang turnamen. Ketegangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memunculkan kekhawatiran terkait keamanan serta partisipasi tim nasional Iran. FIFA memastikan Iran tetap berlaga, namun pemerintah Iran meminta jaminan keamanan dari negara tuan rumah. Kritik juga mengarah pada meningkatnya komersialisasi turnamen, termasuk peluncuran merchandise edisi terbatas dengan harga tinggi yang dinilai lebih menonjolkan nilai komersial dibanding pengalaman suporter.
Selain itu, persoalan hak siar masih menjadi tanda tanya besar, terutama di India dan China yang merupakan pasar penonton terbesar dunia. Ketidakjelasan kesepakatan penyiaran berpotensi membatasi akses jutaan penggemar terhadap siaran resmi. Di tengah polemik tersebut, Piala Dunia 2026 tetap menghadirkan inovasi baru, seperti tiga upacara pembukaan di masing-masing negara tuan rumah dengan hiburan artis internasional. Dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta, turnamen ini menjanjikan skala terbesar sepanjang sejarah, meski euforia globalnya masih dibayangi berbagai isu ekonomi, politik, dan komersialisasi.
