Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Masa, BI Perkuat Intervensi

Nilai tukar rupiah resmi mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Pada penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026), rupiah parkir di level Rp17.127 per dolar AS di pasar spot dan Rp17.135 per dolar AS berdasarkan JISDOR. Tekanan terhadap rupiah yang makin dalam membuat Bank Indonesia (BI) mempercepat langkah stabilisasi. Otoritas moneter kini mengandalkan strategi baru dengan memperkuat instrumen pasar, terutama melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), untuk menjaga daya tarik aset rupiah sekaligus meredam gejolak.

BI kini makin agresif menerbitkan SRBI. Jika sebelumnya lelang hanya digelar sekali sepekan, sejak Februari 2026 frekuensinya ditingkatkan menjadi dua kali, yakni setiap Rabu dan Jumat. Langkah ini dimaksudkan untuk menyerap likuiditas sekaligus menarik dana asing agar tetap bertahan di pasar domestik. Respons pasar sempat kuat di awal. Pada Februari, rata-rata nilai lelang SRBI tembus di atas Rp16 triliun per sesi. Namun, minat investor sempat merosot pada Maret dengan rata-rata hanya Rp4,37 triliun.

Memasuki April, permintaan mulai pulih, didorong kenaikan imbal hasil. Dalam lelang terakhir 10 April 2026, yield SRBI tenor enam bulan mencapai 5,49 persen, level tertinggi sejak Agustus 2025. Penguatan peran SRBI juga menjadi bagian dari strategi BI untuk mengurangi ketergantungan pada intervensi langsung di pasar valas. Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo menilai, kombinasi kenaikan frekuensi lelang dan yield SRBI adalah sinyal kuat untuk menjaga daya tarik aset domestik.

Search