Rupiah Hadapi Beban Berat di 2026, Dolar Bisa di Atas Rp16.800

Sepanjang tahun ini, tim ekonom BCA memperkirakan, skenaro terbaik atau best-case bagi kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.565/US$, base cast di level Rp 16.842/US$, dan worst case Rp 17.334/US$. Head of Banking Research and Analytics Economy BCA Victor George Petrus Matindas mengungkapkan setidaknya ada tiga faktor yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah hingga berpotensi bergerak di kisaran atas Rp 16.800/US$, yaitu pelebaran defisit fiskal, tekanan inflasi, dan pelemahan surplus neraca perdagangan.

Dari sisi fiskal, investor global mengkhawatirkan tekanan defisit APBN kembali membengkak. Pada 2025, realisasi defisit APBN 2025 senilai Rp 695,1 triliun atau setara 2,92% produk domestik bruto (PDB). Defisit itu sekitar 112,8% dari target dalam UU APBN 2025. Defisit yang melebar akan membuat biaya penerbitan obligasi pemerintah makin tinggi. Hal ini berpotensi menekan aliran modal asing masuk yang dibutuhkan untuk memperkuat pasokan dolar di dalam negeri. Mengutip catatan Bank Indonesia (BI), pada pekan pertama tahun ini, data transaksi 5 – 8 Januari 2026, aliran modal asing telah keluar Rp 1,38 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Faktor kedua, dari sisi inflasi, ada potensi pembengkakan ke level atas 3%. Selain karena terdorong faktor kenaikan harga emas juga ada efek rendahnya baseline tekanan inflasi pada kuartal I-2025 akibat insentif diskon listrik. Terakhir, pelemahan surplus neraca perdagangan, dipicu oleh potensi oversupply pasokan barang dari China di tingkat global, hingga normalisasi permintaan negara-negara mitra dagang yang tak terlepas dari lemahnya prospek pertumbuhan ekonomi mereka.

Search