Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus berlanjut, bahkan membuka ruang spekulasi semakin lebarnya tekanan terhadap mata uang garuda. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah secara teoretis berpotensi melemah hingga ke posisi Rp 17.000 per dollar AS, meskipun arah pergerakannya sangat bergantung pada respons dan agresivitas Bank Indonesia. Intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, hingga komunikasi kebijakan menjadi faktor penentu utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Nilai tukar rupiah mencatatkan level terlemah sepanjang sejarah terhadap dollar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,13 persen secara harian ke posisi Rp 16.877 per dollar AS. Pelemahan tersebut sejalan dengan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang mencatat rupiah berada di level Rp 16.875 per dollar AS, juga melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Tekanan rupiah terutama dipicu oleh penguatan kembali dollar AS setelah pernyataan bernada hawkish dari The Fed. Sikap The Fed yang mempertahankan kebijakan moneter ketat membuat dollar AS kembali menjadi aset aman pilihan investor global. Di sisi domestik, rupiah dibayangi kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Isu potensi defisit anggaran yang dikhawatirkan dapat melewati batas 3 persen dari PDB menjadi salah satu sentimen negatif yang menekan rupiah.
