Roman Politik di Balik Harlah Pancasila Kenapa Jokowi tak Diundang?

Momen peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Gedung Pancasila yang tidak dihadiri oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo menjadi tanda tanya. Sementara, Presiden RI ke-5 yang juga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mencuri perhatian dengan menunjukkan keakrabannya dengan Presiden RI kini Prabowo Subianto.

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyatakan kalau semua mantan Presiden dan Wakil Presiden diundang untuk hadir dalam acara tersebut. Namun, berdasarkan konfirmasi dengan ajudan Jokowi, AKBP Syarif Muhammad Fitriansyah, ketidakhadiran mantan kepala negara tersebut karena tidak diundang. Begitu juga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, serta Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin.

Kemesraan Prabowo dan Megawati pada peringatan Hari Lahir Pancasila ditanggapi secara normatif oleh PDIP dan Gerindra, tanpa ingin buru-buru mengaitkannya dengan kontestasi Pemilu 2029. Namun, Direktur Eksekutif Ethical Politics, Hasyibulloh Mulyawan menilai momen tersebut sarat pesan politik: selain mencerminkan hubungan historis yang panjang dan penuh dinamika, kedekatan itu juga dibaca sebagai strategi Prabowo untuk menunjukkan bahwa partai oposisi seperti PDIP tetap bisa beriringan dengan penguasa.

Di sisi lain, absennya Jokowi dianggap sebagai sinyal politik yang tak kalah penting. Arifki Chaniago menilai hal ini menunjukkan adanya ketegangan lama antara PDIP dan Jokowi, sementara Hendri Satrio melihat perubahan sikap PDIP yang kritis terhadap warisan pemerintahan Jokowi. Pada saat bersamaan, Jokowi justru berupaya menjaga eksistensi politik keluarga melalui rencana tur bersama PSI, yang dibaca sebagai langkah mempertahankan posisi Gibran menuju 2029.

Search