“Reshuffle” Kabinet untuk Konsolidasi Politik Diprediksi Sering Terjadi hingga 2029

Perombakan atau reshuffle kabinet pada pemerintahan Presiden Prabowo diprediksi akan sering dilakukan sampai dengan akhir masa pemerintahannya. Perombakan tersebut lebih didasarkan pada kalkulasi politik, bukan meningkatkan kinerja pemerintahan.

Meski belum genap dua tahun, Prabowo telah melakukan lima kali perombakan kabinet. Pola perombakan ini menunjukkan presiden masih mencari format ideal kabinet dan meningkatkan peran faksi-faksi di sekitar Presiden yang berperan memengaruhi keputusan-keputusan politik presiden. Belakangan, ini menunjukkan gejala yang cukup menguat.

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Social Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menilai pola reshuffle yang dilakukan adalah untuk menguatkan dukungan politik kepada presiden. Dengan pola pergantian anggota kabinet yang masih bernuansa politis, target mencapai Indonesia Emas 2045 dinilai berat sekali. Harapannya ke depan format kabinet dapat lebih ideal.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno berpandangan reshuffle kabinet yang dilakukan tampak untuk memperkuat komunikasi politik pemerintah. Presiden Prabowo pun seperti bermaksud untuk mengonsolidasi semua kekuatan politik ke dalam kabinetnya. Misalnya pelantikan Jumhur Hidayat menjadi Menteri Lingkungan Hidup guna memperkuat konsolidasi dengan merangkul tokoh dari kalangan buruh. Politik konsolidasi yang dilakukan oleh Presiden harus dibuktikan dengan kerja-kerja yang terukur.

Search