Angka Anak Tidak Sekolah Tidak Turun Signifikan dalam 6 Tahun Terakhir

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menyatakan bahwa jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia belum menunjukkan penurunan yang signifikan dalam lima hingga enam tahun terakhir. Berdasarkan perbandingan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS tahun 2020 dengan data tahun 2026, angka ATS relatif tidak banyak berubah. Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026, ATS dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu anak yang belum pernah bersekolah, anak putus sekolah, dan anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, dengan kelompok terakhir menjadi penyumbang terbesar.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen meluncurkan Seleksi Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) jenjang SMA sebagai upaya menjangkau anak-anak yang tidak dapat mengakses pendidikan secara reguler. Program ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi anak tidak sekolah, terutama usia 16–18 tahun, agar kembali mengikuti pembelajaran dan membantu menurunkan angka ATS secara bertahap, dengan target jangka panjang mencapai nol ATS pada tahun 2045.

SPMB PJJ akan dilaksanakan di 32 provinsi dengan melibatkan 132 sekolah dan menyasar sekitar 2,4 juta anak tidak sekolah usia SMA. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya peserta yang mendaftar, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk bertahan hingga menyelesaikan pendidikan dan lulus.

Search