Rakyat dalam Jebakan Populisme

Populisme modern menghadirkan kedekatan emosional antara pemimpin dan rakyat, tetapi sekaligus berisiko membuka jalan menuju otoritarianisme ketika retorika rakyat digunakan untuk melemahkan institusi demokrasi. Donald Trump menjadi contoh paling menonjol dengan slogan Make America Great Again yang menggaungkan propaganda anti-imigran, dan kepemimpinannya menunjukkan bagaimana populisme dapat menggerus kualitas demokrasi hingga menjadikan Amerika Serikat ilustrasi ekstrem kemunduran demokrasi global.

Populisme di Amerika Serikat di bawah Donald Trump menunjukkan bagaimana klaim keliru yang diulang-ulang dapat dinormalisasi dan bahkan dinikmati oleh pendukungnya sebagai strategi politik. Fenomena ini memperlihatkan bahwa populisme tidak hanya bekerja melalui retorika kedekatan dengan rakyat, tetapi juga melalui penerimaan aktif terhadap kebohongan sebagai bagian dari permainan politik. Hal ini menegaskan bagaimana populisme bisa mengikis kualitas demokrasi dengan menggeser standar kebenaran publik.

Di Indonesia, populisme hadir dalam bentuk berbeda. Alih-alih menciptakan oposisi antar-elite seperti di AS, populisme di Indonesia dibangun melalui koalisi elite yang beroperasi bersama mayoritas rakyat. Pendekatan ini menyasar silent majority dengan strategi sederhana, transaksional, dan berbasis kedekatan emosional, seperti bantuan gratis atau politik dermawan. Sementara itu, masyarakat sipil kritis yang jumlahnya minoritas sering kali tidak dianggap sebagai suara rakyat, sehingga kontrol terhadap kekuasaan populis menjadi lemah.

Search