Rusia mengonfirmasi bahwa putaran kedua negosiasi damai dengan Ukraina dan Amerika Serikat (AS) akan dimulai pada Rabu (4/2/2026) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), setelah ditunda dari jadwal semula akhir pekan lalu. Agenda utama pembicaraan akan fokus pada isu wilayah—poin paling sensitif dalam konflik ini—tetapi hingga kini belum ada tanda-tanda kemajuan signifikan dari kedua pihak. AS berupaya menjadi perantara bagi tercapainya kesepakatan damai. Washington sedang menyusun draf kesepakatan damai melalui pembicaraan dengan Kyiv dan Moskwa.
Kendati sebagian besar poin dalam draf tersebut telah disepakati, Kyiv menyatakan bahwa isu wilayah tetap menjadi hambatan utama. Rusia, yang kini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, menuntut penguasaan penuh atas wilayah Donetsk di timur sebagai bagian dari segala macam perjanjian damai. Moskwa juga memperingatkan, akan merebut wilayah tersebut secara paksa jika negosiasi tidak membuahkan hasil. Di sisi lain, Ukraina menegaskan tidak akan menyetujui kesepakatan yang berpotensi membuka jalan bagi serangan lanjutan Rusia di masa depan.
Pemerintah Kyiv juga memperingatkan, menyerahkan wilayah hanya akan memperkuat posisi Moskwa. Sebagian besar warga Ukraina pun menolak gagasan menyerahkan wilayah yang telah dipertahankan pasukan mereka selama bertahun-tahun, dan menganggap hal itu tidak dapat diterima.
