Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dari hasil simulasi yang telah Kementerian Keuangan buat, potensi krisis berkepanjangan yang disebabkan konflik lintas negara di kawasan Timur Tengah itu tak akan membuat kondisi APBN mengalami tekanan defisit alias jebol, terutama untuk menanggung beban subsidi BBM efek harga minyak naik. Berdasarkan Refinitiv per pukul 12.55 WIB, kontrak Brent crude berada di US$80,32 per barel, melonjak 3,24% dibandingkan penutupan Senin (2/3/2026) di US$73,2. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$72,41 per barel, naik 2,60% dari posisi sebelumnya di US$71,23.
Purbaya mengatakan, ketahanan APBN ini disebabkan kemampuan pemerintah dalam mengumpulkan penerimaan negara sudah semakin baik. Per Januari 2026, setoran pajak sudah mampu mencapai Rp116,2 triliun atau tumbuh 30,7% (year on year). Ia pun memastikan, dari hasil simulasi yang dilakukan untuk sepanjang tahun ini, beban subsidi BBM tidak akan mengalami pembengkakan yang membuat APBN terguncang efek perang Iran vs Israel-AS itu. Sebagaimana diketahui, dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 118 Tahun 2025 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026, anggaran belanja subsidi bahan bakar dan energi yang telah disiapkan dalam Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) sebesar Rp210,06 triliun. Nilai itu lebih tinggi dibanding yang disiapkan pada 2025 sebesar Rp203,41 triliun.
