Presiden Prabowo menargetkan pembangunan PLTS total 100 GWp dalam tiga tahun, setara atau melebihi kapasitas pembangkit listrik nasional sekitar 88 GW, sebagai upaya memperkuat swasembada dan kedaulatan energi serta mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Prabowo berharap proyek dapat selesai dalam dua tahun bila semua kementerian bekerja sesuai target.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut investasi proyek mencapai US$73 miliar (Rp 1.140 triliun), diproyeksikan menciptakan 5,52 juta lapangan kerja, menghemat subsidi Rp 73,9 triliun per tahun, serta menurunkan emisi CO₂ sekitar 140 juta ton per tahun. Pendanaan akan diarahkan melalui skema IPP dengan opsi pemerintah via Danantara bila tidak ada investor kompetitif, didukung Battery Energy Storage System (BESS).
Tahap awal meliputi 14 proyek PLTS pertama dengan kapasitas total ~5,2 GWp dan investasi US$7,7 miliar, termasuk beberapa proyek terapung, BESS, serta proyek skala kecil di Bali dan wilayah terpencil. Pemerintah menargetkan PLTS 1 GWp di Bali beroperasi komersial pada 2028 untuk menggantikan PLTD.
