Presiden Prabowo Subianto memberikan tugas besar kepada Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk membangun tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) di pantai utara Jawa. Proyek ini direncanakan membentang dari Banten hingga Gresik, dengan tujuan melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan banjir rob. Dalam pidatonya di Kongres VI Demokrat, Prabowo menegaskan bahwa proyek ini akan dikerjakan dengan anggaran dalam negeri, karena negara memiliki dana yang cukup untuk merealisasikannya.
AHY menekankan bahwa pembangunan Giant Sea Wall bukan lagi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), melainkan tergolong sebagai proyek mega infrastruktur karena skala dan anggaran yang sangat besar. Total biaya yang diperkirakan mencapai US$50 miliar atau setara dengan Rp809,5 triliun. Saat ini, pemerintah masih terus melakukan studi kelayakan untuk memastikan manfaat dan relevansi proyek ini dalam jangka panjang.
Proyek Giant Sea Wall ini dianggap sebagai langkah besar dalam pembangunan infrastruktur Indonesia, tetapi juga menimbulkan tantangan besar dalam aspek perencanaan, pendanaan, dan pelaksanaannya. Meskipun belum ada kepastian mengenai berapa tahun proyek ini akan rampung, Prabowo menegaskan bahwa dengan tekad kuat, proyek tersebut akan bisa diwujudkan demi kepentingan nasional.