Prabowo Bawa Oleh-oleh Rp91,6 T dari Eropa, Apa Efeknya ke Ekonomi RI?

Presiden Prabowo Subianto pulang dari lawatan ke Inggris, Swiss, dan Prancis dengan membawa kesepakatan investasi senilai 4 miliar poundsterling atau setara Rp91,67 triliun. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut salah satu capaian strategis tersebut adalah kerja sama investasi di bidang maritim dengan Inggris, termasuk pembangunan 1.582 kapal ikan yang akan diproduksi di dalam negeri, serta kerja sama pendidikan dengan 24 universitas terbaik di Inggris, khususnya di bidang kedokteran serta sains, teknologi, dan matematika (STEM).

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai dalam jangka pendek, hasil diplomasi ini belum akan langsung terasa di masyarakat. Meski demikian, ia melihat ada dampak dari sisi psikologis dan persepsi pasar terhadap ekonomi nasional. Menurutnya, kesepakatan investasi dengan Inggris memberi sinyal kuat bahwa Indonesia masih dipandang sebagai mitra strategis global, khususnya di sektor maritim. Persepsi ini berpotensi memengaruhi sikap investor internasional, nilai tukar rupiah, hingga kepercayaan pelaku usaha domestik. Dalam jangka menengah, Ronny melihat potensi dampak yang lebih konkret, terutama dari rencana pembangunan kapal ikan. Ia menilai proyek ini dapat memicu efek berantai ke berbagai sektor, mulai dari industri galangan kapal, baja, komponen, hingga logistik dan kawasan pesisir. Proyeksi penyerapan tenaga kerja hingga 600 ribu orang dinilainya realistis. Ronny juga menilai kerja sama pendidikan dengan 24 universitas Inggris sebagai bagian penting dari investasi jangka menengah-panjang. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dianggap krusial bagi daya saing Indonesia 5 hingga 10 tahun ke depan.

Di sisi lain, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengingatkan publik agar tidak larut dalam euforia angka investasi. Menurutnya, narasi presiden membawa ‘oleh-oleh’ investasi sejatinya bukan hal baru dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Ia mencontohkan kunjungan Presiden ke-7 Jokowi ke Amerika Serikat (AS) yang sempat diklaim membawa komitmen investasi dari perusahaan milik Elon Musk. Namun, hingga kini realisasi belum terlihat jelas. Bagi Huda, persoalan utama terletak pada lemahnya tindak lanjut dari komitmen tersebut. Tanpa kebijakan yang konsisten dan eksekusi yang kuat, investasi hanya berhenti di level wacana.

Search