PNBP Kuartal I-2026 Diprediksi Turun, Harga Batubara dan CPO Jadi Faktor Utama

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Indonesia pada Kuartal I-2026 diperkirakan mengalami penurunan seiring tren pelemahan harga komoditas global. Kondisi ini berdampak langsung pada komoditas unggulan nasional seperti batubara dan crude palm oil (CPO), yang selama ini menjadi kontributor utama PNBP dari sektor sumber daya alam (SDA). Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kinerja PNBP Januari 2026 tercatat sebesar Rp 33,9 triliun atau turun 19,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut baru mencapai 7,4% dari target APBN 2026 sebesar Rp 459,2 triliun.

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, tren penurunan harga komoditas menjadi sinyal kuat bahwa postur penerimaan negara, khususnya PNBP dari sektor SDA, tengah menghadapi tekanan. Ia mencontohkan Harga Batubara Acuan (HBA) yang turun dari sekitar US$ 124 per ton pada Januari 2025 menjadi sekitar US$ 104 per ton pada Januari 2026. Dengan sistem royalti progresif, penurunan harga tersebut berdampak langsung pada besaran setoran ke kas negara. Tekanan serupa juga terjadi pada komoditas CPO. Harga referensi yang bergerak lebih rendah di kisaran US$ 915 per ton membuat basis penerimaan dari pungutan ekspor dan royalti ikut melemah. Kondisi tersebut tercermin dari realisasi awal Januari 2026 yang menunjukkan kontraksi sekitar 20% secara tahunan. Yusuf memperkirakan Kuartal I-2026 akan menjadi fase koreksi nyata karena adanya tekanan dari sisi harga dan volume produksi. Dari sisi harga, penurunan batubara dari level US$ 120-an ke kisaran US$ 100 per ton menyebabkan penerimaan negara terkoreksi lebih dalam.

Untuk sepanjang 2026, Yusuf memperkirakan harga batubara cenderung stagnan hingga bearish di kisaran US$ 100–US$ 110 per ton. Tekanan ini dipicu oleh peningkatan produksi domestik di negara konsumen utama seperti China dan India yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor. Sementara itu, harga CPO diproyeksikan relatif lebih stabil meskipun melandai ke kisaran US$ 850–US$ 900 per ton. Kebijakan mandatori biodiesel seperti B40 dan persiapan menuju B50 menjadi faktor penopang permintaan domestik. Namun, potensi stagnasi volume ekspor tetap menjadi tantangan.

Search