Pertamina & Boeing Jajaki Pengembangan Bahan Bakar Berkelanjutan SAF

PT Pertamina (Persero) dan Boeing menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan dan mempercepat transisi energi menuju target Net Zero Emission. Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan SAF, dengan proyeksi surplus produksi mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2050 berdasarkan ASEAN 2050 SAF Outlook.

Kolaborasi Pertamina dan Boeing akan mencakup identifikasi potensi bahan baku, pengembangan teknologi, serta dukungan terhadap kebijakan yang dibutuhkan untuk mempercepat implementasi SAF. Pertamina menilai kerja sama ini sebagai investasi jangka panjang untuk membangun industri SAF nasional yang kompetitif dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kemampuan pengolahan Pertamina, dan keahlian Boeing di industri penerbangan global. SAF dalam bentuk murni juga dinilai berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.

Pertamina sebelumnya telah menjalankan sejumlah inisiatif untuk membangun ekosistem SAF nasional, mulai dari produksi dan sertifikasi Pertamina SAF, implementasi penggunaan bersama Pelita Air, hingga pengembangan proyek Cilacap Biorefinery. Fasilitas tersebut dirancang untuk memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan memanfaatkan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) serta bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya. Kolaborasi dengan Boeing diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan penerbangan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

Search