Konflik bersenjata antara Thailand-Kamboja kembali memanas dan meluas, dengan pertempuran kini menjalar ke lima provinsi di dua negara. Bentrokan terbaru menewaskan sedikitnya 10 orang, sementara lebih dari 140.000 warga sipil terpaksa mengungsi akibat serangan jet, tank, dan drone. Ketegangan meningkat setelah gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat kembali runtuh. Kedua negara saling menuduh sebagai pemicu eskalasi. Di pihak Thailand, militer melaporkan tiga tentara tewas dan 29 terluka sejak Senin.
Kementerian Pertahanan Kamboja menyebut tujuh warganya tewas dan 20 lebih luka-luka. Di Kamboja, gelombang pengungsian terus bertambah. AS kembali mendesak kedua pihak menghentikan kekerasan. PBB juga mengingatkan potensi eskalasi lebih besar. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta kedua pihak “menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut.”
Phnom Penh menuduh Thailand melakukan serangan fajar di beberapa titik, termasuk dekat Kuil Preah Vihear yang menjadi sengketa. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan militernya tak akan mundur. Sementara itu, Angkatan Laut Thailand menyebut Kamboja menggunakan drone untuk memprovokasi pasukan Thailand dan mengklaim telah melancarkan operasi untuk “mengusir” mereka dari wilayah sengketa di Trat.
