Pengamat Politik Akar Rumput Strategic Consulting (ASRC), Ikhwanul Marif, menilai teknologi Artificial Intelligence (AI) tidak bisa menggantikan peran sisi humanisme Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam ruang dialektika dan aspirasi publik.
Fenomena anggota DPR digantikan oleh AI sangat wajar melihat kinerja DPR yang tidak optimal dan korup menimbulkan sarkasme dari publik. Untuk itu, DPR harus memperbaiki kinerja agar mengembalikan kepercayaan publik.
“Fenomena yang wajar di era digitalisasi dan perkembangan AI dan ada menurunnya kepercayaan publik terhadap aktor politik, pemerintah, DPR karena ini didorong ada daya beli yang menurun, ekonomi yang melambat. fenomena ini seperti gayung bersambut,” jelasnya saat mengudara di Program Wawasan Polling Radio Suara Surabaya, Kamis (22/1/2026).
AI dalam sektor politik hanya berfungsi sebatas alat bantu untuk memangkas rumitnya birokrasi. Tugas pengambilan keputusan tetap diperankan oleh manusia.
