Pemerintah akan membangun 13 klaster pabrik daging dan telur ayam terintegrasi di 13 provinsi, dengan total investasi Rp 20 triliun yang dikelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. Proyek ini mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari bibit grand‑parent stock hingga produk olahan seperti sosis. Rencana tersebut diproyeksikan menambah produksi telur hingga 1 juta ton dan daging ayam sampai 1,54 juta ton, serta meningkatkan perputaran uang di industri menjadi sekitar Rp 99 triliun, sementara total nilai industri saat ini mencapai Rp 554 triliun dan terpusat pada dua perusahaan swasta.
Namun, efektivitas investasi dipertanyakan karena tantangan logistik, biaya pakan tinggi, serta kebijakan proteksi daerah yang menghambat distribusi DOC dan produk unggas, terutama di luar Pulau Jawa; setengah dana dialokasikan untuk broiler dan setengah untuk layer, namun pedoman teknis belum tersedia.
