Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, meyakini industri hulu migas domestik mampu memenuhi pasokan gas nasional hingga 2040. Dia menepis proyeksi Wood Mackenzie (WoodMac) yang menyatakan Indonesia bakal menjadi importir gas pada 2040 karena pasokan dalam negeri tak mencukupi. Tutuka mengatakan pasokan gas di dalam negeri ke depan bakal berada pada kondisi optimal jika target produksi gas 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030 tercapai. Lebih lanjut, dia menganggap kepastian pasokan gas domestik makin mumpuni jika hasil eksplorasi gas di Laut Andaman Aceh dan Blok Migas Agung BP menuai hasil positif. Dia mengakui bahwa serapan gas dalam negeri cenderung meningkat karena masifnya aktivitas hilirisasi mineral yang mayoritas menggunakan gas sebagai bahan baku maupun bahan bakar pembangkit listrik pabrik pemurnian maupun smelter.
Melansir catatan Kementerian ESDM, kebutuhan gas domestik pada 2022 menyentuh 3,6 BSCFD atau 68% dari total produksi tahunan. Sementara sisanya, yakni 1,7 BSCFD atau 32% dialokasikan untuk kebutuhan ekspor. Adapun serapan gas domestik relatif stagnan, bahkan menurun dari 3,8 BSCFD pada 2017 menjadi 3,6 BSCFD pada 2022. Serapan gas dalam negeri ditargetkan naik menjadi 3,8 BSCDF pada tahun ini. Tutuka menyatakan iklim investasi hulu migas dalam negeri cenderung membaik dengan split atau kontrak bagi hasil 50:50 untuk pengembangan lapangan migas berisiko tinggi atau high risk. Pemerintah juga mendorong DPR untuk menuntaskan Revisi Undang-Undang Migas untuk menambah kepastian investasi dalam negeri.
Lembaga Penelitian dan Konsultan Energi Wood Mackenzie atau WoodMac memprediksi permintaan dan konsumsi gas di Indonesia terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, penggunaan bahan bakar pembangkit listrik dan bahan baku industri. Dalam White Paper bertajuk ‘Achieving Resilience in the Energy Transition to Safeguard Indonesia’s Economic Growth & Sustainable Development’, WoodMac bersama Indonesian Petroleum Association (IPA) menyampaikan 63% dari total permintaan gas Indonesia berasal dari sektor industri. Research Director Upstream and Carbon Management of Wood Mackenzie, Andrew Harwood, mengatakan penurunan produksi gas dalam negeri mampu meningkatkan risiko pergeseran status Indonesia sebagai pengekspor gas menjadi importir gas untuk memenuhi kebutuhan sektor industri. “Saat ini produksi minyak dan gas dalam negeri menghadapi pertumbuhan demand dan itu akan mengubah Indonesia dari negara pengekspor menjadi pengimpor gas alam,” kata Andrew saat memberikan paparan White Paper di Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2023 di ICE BSD Tangerang pada Rabu (26/7). WoodMac memproyeksikan permintaan gas dari sektor industri bakal tumbuh signifikan hingga 3,8% per tahun pada skenario bisnis biasanya (business as usual). Sedangkan, permintaan gas domestik akan tumbuh hingga 10,3% pada skenario optimistik (OPT) per tahun. Di sisi lain, White Paper WoodMac memproyeksikan produksi migas domestik bakal mengalami penurunan hingga 12,6% pada skenario business as usual dan 4,3% pada skenario OPT. Lebih lanjut, WoodMac menuliskan produksi migas dalam negeri bakal bakal berada di bawah target 1 juta barel minyak per hari (bopd) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (Bscfd) pada 2030 apabila pemerintah tidak mengoptimalkan investasi pada sisi eksplorasi dan pengembangan lapangan baru.