Tantangan terbuka diungkapkan Perwakilan Tetap Rusia untuk Organisasi Internasional, Mikhail Ulyanov kepada Amerika Serikat (AS). Menurut Ulyanov, permintaan AS terhadap Iran merupakan pelanggaran Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Diplomat Rusia ini bahkan mempertanyakan logika di balik sikap Washington, setelah Iran menolak proposal AS. “Mengapa Iran harus menerima tuntutan AS ini?” katanya. Berdasarkan Pasal IV perjanjian NPT, semua negara penandatangan memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai, termasuk pengayaan. “Sepertinya Washington sama sekali tidak peduli untuk menjaga integritas rezim non-proliferasi nuklir,” tegas Ulyanov.
Sementara itu, para analis menilai langkah AS ini sebagai upaya “pemaksaan sepihak” yang justru dapat merusak tatanan verifikasi global. Jika AS terus memaksakan pembongkaran fasilitas sipil, hal ini dikhawatirkan akan memicu Iran untuk benar-benar keluar dari keanggotaan NPT, yang justru akan memperkeruh stabilitas keamanan di Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump bersumpah bahwa ia akan merebut uranium milik Iran. Trump bahkan sempat marah setelah perwakilan Iran mengirimkan proposal balasan terkait rencana perdamaian untuk mengakhiri perang. Trump menyebut tawaran tersebut sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima”.
Respons Iran berfokus pada mengakhiri perang dan mengukuhkan jaminan bahwa perang tidak akan berlanjut, sebelum hal lainnya. Teks tersebut “menekankan perlunya pencabutan sanksi AS, mengakhiri perang di semua lini” dan memastikan pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran. Iran menuntut diakhirinya blokade angkatan laut AS segera setelah penandatanganan perjanjian, pencabutan sanksi AS terkait penjualan minyak selama periode 30 hari tersebut serta pelepasan aset yang dibekukan pada saat penandatanganan awal MOU tersebut. Kondisi tersebut, jika dikonfirmasi, sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh para negosiator AS.
