Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencetak surplus pada Januari 2026 sebesar 0,95 miliar dolar AS, yang memperpanjang tren surplus 69 bulan beruntun sejak Mei 2020. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3) menyampaikan surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang masih kuat, meski impor mengalami peningkatan cukup tinggi secara tahunan. Neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus 3,22 miliar dolar AS, sementara neraca migas masih mengalami defisit sebesar 2,27 miliar dolar AS. Kata Ateng, komoditas utama penyumbang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewan nabati (HS15) dengan surplus 3,10 miliar dolar AS, bahan bakar mineral (HS27) sebesar 2,16 miliar dolar AS, serta besi dan baja (HS72) sebesar 1,51 miliar dolar AS.
Dari sisi kinerja perdagangan, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS, meningkat 3,39 persen secara tahunan (year-on-year). Kenaikan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 4,38 persen menjadi 21,26 dolar AS. Ia menyampaikan pula, peningkatan ekspor nonmigas terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewan nabati yang melonjak 46,05 persen, diikuti nikel dan barang daripadanya yang naik 42,04 persen, serta mesin dan perlengkapan elektronik yang meningkat 16,27 persen. Sementara itu, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 21,20 dolar AS miliar, naik cukup tinggi yakni 18,21 persen dibandingkan Januari 2025. Kenaikan impor itu terutama didorong oleh impor nonmigas. BPS mencatat peningkatan impor terjadi pada seluruh kelompok penggunaan, terutama bahan baku atau penolong yang naik 14,67 persen, serta barang modal yang meningkat 35,32 persen.
Secara negara mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia sebesar 1,55 miliar dolar AS, diikuti India 1,07 miliar dolar AS, dan Filipina 0,69 miliar dolar AS. Adapun defisit terdalam tercatat dengan China sebesar 2,47 miliar dolar AS, kemudian Australia 0,96 miliar dolar AS, dan Prancis 0,47 miliar dolar AS.
