Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama lebih dari setahun kini menghadapi tantangan efektivitas, terutama terkait distribusi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai belum optimal menyasar wilayah dengan prevalensi stunting tinggi. Sebagai contoh, di Kabupaten Sanggau, data Dinas Kesehatan menunjukkan angka stunting justru mengalami kenaikan pada triwulan I 2026 menjadi 21,82 persen, yang menandakan belum adanya dampak signifikan dari program tersebut dalam menekan angka stunting secara instan.
Merespons kondisi tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan agar Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah fokus target prioritas penerima manfaat. Menkes menekankan bahwa intervensi gizi seharusnya diprioritaskan pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, karena kelompok tersebut berada pada fase krusial atau golden period pertumbuhan yang sangat menentukan dalam pencegahan stunting, dibandingkan memberikan porsi dominan kepada anak usia sekolah.
Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sedang melakukan pengumpulan data untuk mengukur dampak nyata MBG terhadap status gizi masyarakat secara evidence-based. Evaluasi ini bertujuan untuk mengkaji ulang efektivitas program, mengingat pemerintah hingga kini belum dapat memaparkan data konkret yang menunjukkan penurunan angka stunting akibat pelaksanaan MBG, serta untuk menentukan langkah perbaikan kebijakan ke depan.
