Memasuki musim kemarau, pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memprioritaskan enam provinsi rawan, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, serta memantau daerah lain yang mulai mengalami lonjakan suhu seperti Aceh. Di Papua Selatan, perhatian juga meningkat setelah munculnya banyak titik api di kawasan proyek food estate dan area konsesi. Walhi mencatat 399 dari 1.292 titik panas pada 1–9 Juli 2026 berada di wilayah yang telah mengalami perubahan tata ruang akibat proyek strategis nasional maupun izin usaha.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Environmental Research Letters mengungkap bahwa kebakaran besar umumnya tidak berasal dari satu titik api, melainkan dari puluhan hingga ratusan titik api yang muncul secara terpisah lalu menyatu menjadi kebakaran berskala besar. Analisis terhadap bencana kabut asap 2015 menunjukkan sekitar 84 persen jaringan kebakaran memiliki lebih dari satu titik asal. Lokasi kemunculan titik api dipengaruhi oleh kombinasi aktivitas manusia, karakter bentang alam, dan tingkat kekeringan atmosfer yang semakin meningkat akibat perubahan iklim.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa strategi penanggulangan karhutla perlu bergeser dari sekadar memadamkan api menjadi mencegah munculnya banyak titik api sejak dini. Upaya pencegahan harus difokuskan pada kawasan yang rentan mengalami perubahan penggunaan lahan, termasuk hutan hujan dan wilayah konsesi, dengan memperkuat deteksi dini serta pengawasan selama musim kemarau. Langkah ini dinilai menjadi kunci untuk mengurangi risiko kebakaran besar dan mencegah terulangnya bencana kabut asap di masa depan.
