Makin Banyak Anak Muda di Singapura Kena Kanker, Kasusnya Melonjak 34 Persen

Fenomena kanker yang selama ini identik dengan usia lanjut kini mulai bergeser di Singapura. Laporan Singapore Cancer Registry 2026 mencatat hampir 5.000 kasus kanker pada kelompok usia di bawah 40 tahun sepanjang 2019–2023, meningkat sekitar 34 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya. Tren ini menunjukkan semakin banyak anak muda didiagnosis kanker pada fase hidup yang seharusnya menjadi masa pembangunan karier, relasi sosial, dan perencanaan keluarga.

Menurut Ben Chua, CEO 365 Cancer Prevention Society, diagnosis kanker di usia muda sering membuat kehidupan terasa “terhenti”. Selain menghadapi pengobatan berat, pasien muda juga dihantui ketidakpastian masa depan, mulai dari peluang memiliki anak hingga keberlanjutan karier. Para ahli mencatat peningkatan kasus kanker yang sebelumnya lebih umum pada usia tua, seperti kanker kolorektal, kanker payudara, dan kanker darah, dengan dugaan faktor risiko meliputi gaya hidup sedentari, pola makan, serta paparan lingkungan, meski penyebab pastinya masih diteliti.

Meski tingkat kelangsungan hidup pasien meningkat, tantangan baru muncul pada fase kehidupan setelah kanker. Banyak penyintas muda merasa terjebak di antara sistem dukungan yang lebih berfokus pada pasien anak-anak atau lansia, sehingga persoalan seperti karier yang terhenti, relasi sosial, hingga kesehatan mental sering kurang terakomodasi. Dilaporkan oleh CNA, kondisi ini menuntut perubahan pendekatan sosial dan kebijakan, termasuk dukungan tempat kerja yang lebih fleksibel serta pengakuan bahwa survivorship kanker merupakan isu jangka panjang yang memerlukan empati dan sistem pendampingan berkelanjutan.

Search