Seorang prajurit penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) tewas di Lebanon, Kamis (4/6/2026). Insiden ini terjadi setelah sebuah pangkalan pasukan UNIFIL dihantam mortir di wilayah selatan Lebanon, tempat Israel dan Hizbullah bertempur, Rabu (3/6/2026). Namun, belum diketahui dari mana asal mortir tersebut. Kematian ini menjadikan jumlah pasukan penjaga perdamaian UNIFIL yang tewas menjadi tujuh orang sejak konflik terbaru meletus pada Maret.
Prajurit itu disebut berasal dari Serbia, sementara dua tentara lainnya juga dilaporkan terluka. Saat ini, penyelidikan telah diluncurkan dan juga mendesak otoritas nasional terkait untuk menyelidiki insiden tersebut. Menurut UNIFIL, sekitar 170 pasukan penjaga perdamaian Serbia termasuk di antara 7.500 personel yang berasal dari hampir 50 negara. Pasukan penjaga perdamaian ditempatkan di Lebanon selatan dekat Garis Biru, perbatasan de facto sepanjang 120 kilometer (75 mil) antara Lebanon dan Israel.
Pada Senin (1/6/2026), Kepala PBB Antonio Guterres mengatakan, pasukan penjaga perdamaian masih akan dibutuhkan di Lebanon setelah misi UNIFIL berakhir akhir tahun ini. Namun, usulan ini kemungkinan akan menghadapi penentangan dari Amerika Serikat dan Israel.
