Kurangnya Lapangan Kerja Formal Ancam Daya Beli di 2026

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebutkan faktor yang akan menambah tekanan terhadap daya beli konsumen pada tahun ini. Ia menilai kurangnya lapangan kerja formal menjadi salah satu faktor yang memberi tekanan ke daya beli masyarakat. Selain itu, harga komoditas yang cenderung naik menjelang Ramadan juga dapat menjadi faktor penekan daya beli. Kendati produksi sejumlah bahan pokok tercatat surplus, salah satunya beras, tapi suplai komoditas tersebut juga dibutuhkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Apalagi MGB bakal semakin masif diimplementasikan dengan anggaran yang bertambah besar dibandingkan 2025. “Itu akan menciptakan atau akan men-trigger (memicu) kenaikan inflasi pangan yang sebenarnya sudah mulai terasa,” tutur Bhima. Untuk mengatasi tekanan terhadap daya beli dan konsumsi masyarakat, ia menyatakan pemerintah perlu merevisi kebijakan perpajakan. Hal itu akan berpengaruh terhadap masyarakat kelas menengah agar dapat mendorong konsumsi domestik tetap menjadi motor pertumbuhan yang efektif. Hal yang bisa dilakukan ialah memangkas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 8-9 persen untuk meningkatkan keinginan konsumsi masyarakat. Transmisi penurunan suku bunga juga perlu dipercepat, sehingga nasabah yang tengah mencicil pembayaran, misalnya melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun kredit kendaraan bermotor, bisa mendapatkan nominal cicilan yang lebih rendah.

Search