Warga Iran mulai mencari tempat perlindungan dan menimbun kebutuhan pokok, menyusul meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan serangan militer Amerika Serikat. Ketegangan meningkat setelah beredar rumor mengenai ancaman serangan AS, menyusul pergerakan armada militer AS ke kawasan Timur Tengah sejak pekan lalu. Kekhawatiran serupa dirasakan diaspora Iran yang takut kehilangan kontak dengan keluarga akibat kemungkinan pemadaman internet nasional. Di balik ketenangan yang rapuh, warga Iran terus bertanya-tanya apa yang harus dilakukan jika perang benar-benar dimulai.
Dalam sepekan terakhir, ketika AS kembali meningkatkan retorika perang, ancaman konflik berubah menjadi ketakutan nyata bagi warga Iran. Pergerakan armada militer besar AS ke Timur Tengah, selain memicu kesepakatan senjata besar dengan Arab Saudi dan Israel, juga menimbulkan tekanan psikologis dan kekhawatiran mendalam di Iran.
Warga Iran masih terguncang oleh penindakan berdarah terhadap unjuk rasa yang pecah sejak 28 Desember lalu dan meluas ke berbagai kota. Pemerintah Iran menyebut lebih dari 3.117 orang tewas, tetapi kelompok HAM memperkirakan jumlah korban jauh lebih besar bahkan lebih dari 6.500 orang dan mayoritas adalah warga sipil.
