Ketika Nilai TKA Menjadi Tiket Prestasi: Sekolah Harus Berhenti Mengandalkan Hafalan

Rendahnya capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) secara nasional yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah beberapa waktu lalu, kembali memicu kegelisahan publik. Isu ini menjadi semakin strategis ketika Kemendikdasmen melalui Surat Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah Nomor 0301/C/HK.04.01/2026 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2026/2027 yang mengaitkan hasil TKA dengan jalur prestasi dalam seleksi peserta didik. Kebijakan ini dirancang lintas jenjang, dengan rencana pemanfaatan hasil TKA SD dan SMP untuk penerimaan murid baru di SMP dan SMA.

Di banyak sekolah, belajar dimaknai hanya sekedar menghafal materi, tetapi tidak untuk asesmen seperti TKA yang menuntut literasi, numerasi, dan kemampuan bernalar. Di sinilah peran guru sebagai desainer/ sutradara dalam membuat skenario pembelajaran menjadi sangat penting. Dalam perspektif kebijakan publik, TKA seharusnya diposisikan sebagai instrumen untuk melakukan refleksi sistem pendidikan. Jika hasilnya rendah, respons yang tepat bukan menambah tekanan pada siswa, melainkan memperbaiki desain pembelajaran.

Transformasi ini menuntut penyelarasan antara kurikulum, pedagogi, dan asesmen, serta dukungan kebijakan yang konsisten bagi guru dan sekolah. Sekolah harus berhenti mengandalkan hafalan sebagai strategi utama. Jika tidak, TKA akan terus menyampaikan pesan yang sama, masalahnya bukan pada anak-anak kita, melainkan pada cara kita mengajarkan mereka untuk belajar. 

Search