Kini bahasa politik generasi Z dan milenial adalah meme. Meme berkembang dan dianggap efektif karena mampu menyederhanakan isu politik yang kompleks menjadi visual singkat yang mudah dipahami, serta menghadirkan humor yang membuat diskusi politik terasa lebih ringan. Dengan cara ini, orang yang biasanya tidak tertarik membaca teks panjang tetap bisa terlibat dalam percakapan politik melalui konten meme. Kutipan artikel menyebutkan, “Sebuah isu yang rumit dapat dikemas menjadi gambar atau video singkat yang lebih mudah dipahami.”
Selain itu, meme berfungsi sebagai alat pembentuk identitas kelompok. Membagikan meme tertentu menunjukkan kesamaan pandangan atau pemahaman terhadap referensi politik dalam komunitas digital. Hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara pengguna dengan perspektif serupa. Meme tidak hanya menjadi lelucon, tetapi juga ekspresi sosial dan budaya digital yang memperkuat keterhubungan antaranggota komunitas politik online.
Namun, kesederhanaan meme juga menimbulkan tantangan karena berpotensi menyederhanakan isu politik yang kompleks. Algoritma media sosial memperkuat penyebaran meme kontroversial, sehingga dapat memengaruhi percakapan publik tanpa penjelasan mendalam. Meski begitu, meme tetap memiliki sisi positif sebagai sarana kritik kebijakan dan penyampaian keresahan publik dengan bahasa yang lebih mudah diterima. Fenomena ini menegaskan bahwa komunikasi politik kini semakin dipengaruhi budaya digital, di mana memahami meme berarti juga memahami pesan, konteks, dan informasi di baliknya.
