Ketika Gelar Tak Lagi Menjamin Pekerjaan, Alarm Skill Mismatch bagi Generasi Muda Indonesia

Gelar sarjana yang dulunya dianggap sebagai tiket menuju kesejahteraan kini menghadapi tantangan besar karena realitas dunia kerja yang tidak lagi sejalan dengan harapan. Fenomena skill mismatch atau ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri menjadi persoalan serius. Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi terpaksa bekerja di luar bidang ilmu mereka atau terjun ke sektor gig economy demi bertahan hidup.

Guru Besar Sosiologi Unair, Prof. Dr. Bagong Suyanto, menilai bahwa masalah ini berakar pada ketidaksinkronan antara profil tenaga kerja yang dihasilkan dan jenis industrialisasi yang dikembangkan di Indonesia. Perguruan tinggi sering kali menghasilkan lulusan yang seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan ekonomi lokal, sementara model industri padat modal yang dominan saat ini cenderung tidak mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Kondisi ini perlahan mengikis kepercayaan generasi muda terhadap sistem meritokrasi, di mana pendidikan tinggi tidak lagi dipandang sebagai jaminan utama bagi peningkatan kesejahteraan. Muncul persepsi bahwa faktor jaringan atau “orang dalam” lebih menentukan dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. Situasi ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga menurunkan motivasi berprestasi dan keyakinan anak muda akan manfaat investasi pendidikan.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan perubahan paradigma di lingkungan perguruan tinggi. Kampus diminta untuk tidak lagi sekadar mencetak lulusan “siap pakai” untuk perusahaan, melainkan membentuk individu yang inovatif, kritis, dan memiliki kemampuan untuk terus belajar. Selain itu, pengembangan sektor industri yang lebih padat karya dianggap sebagai langkah krusial untuk memperbaiki daya serap tenaga kerja di Indonesia.

Search