Kesepakatan Tarif Trump yang Bikin Petani Jagung Gorontalo Ketar-Ketir

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif resiprokal baru untuk Indonesia, yakni sebesar 19%. Angka ini turun dari besaran sebelumnya sebesar 32%. Namun, kompensasi dari penurunan tersebut adalah Indonesia harus menjalankan sejumlah kewajiban lain, seperti membeli produk energi senilai Rp244 triliun, memboyong 50 pesawat Boeing, dan membeli produk pertanian senilai Rp73 triliun. Semua produk AS itu dibeli tanpa dikenai impor tarif alias 0%. Trump pun mengatakan para peternak, petani, dan nelayan AS akan memiliki akses penuh dan total ke pasar Indonesia yang berpenduduk lebih dari 280 juta orang. “Mereka (Indonesia) akan membayar 19% dan kita (AS) tidak membayar apa pun. Kita akan punya akses penuh ke pasar Indonesia,” katanya di Gedung Putih, Selasa, 15 Juli.

Presiden Prabowo Subianto, dalam unggahan di akun Instagram pada 16 Juli, mengatakan dia dan Trump sepakat untuk membawa hubungan perdagangan antara Indonesia dan AS ke era baru yang saling menguntungkan. Dengan “diskon” ini, Indonesia menjadi salah negara di ASEAN yang punya tarif terendah setelah Singapura (10%) dan Filipina (12%). Indonesia pun hanya terpaut 1% dengan Vietnam (20%). Salah satu komoditas pangan AS yang berpeluang membanjiri Indonesia. Negara Paman Sam merupakan negara penghasil jagung terbesar di dunia. FAO mencatat, produksi jagung AS mencapai 389,7 juta ton atau 25% dari total produksi global pada 2023. Sedangkan Cina yang berada di posisi kedua sebesar 289,1 juta ton (19%). Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) menilai kesepakatan dagang ini berpotensi menurunkan daya saing jagung lokal dan menekan harga di tingkat petani. Dengan tarif 0%, jagung AS yang diproduksi menggunakan teknologi tinggi sehingga lebih efisien, dikhawatirkan membuat harga jagung lokal anjlok.

Search