Kesejahteraan dan Pembaruan Kompetensi Guru, Tantangan Riil Dunia Pendidikan

Kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru menjadi dua tantangan utama pendidikan nasional. Masih banyak guru honorer yang menerima penghasilan rendah, bahkan diperkirakan sekitar 74 persen berpenghasilan di bawah Rp2 juta per bulan, sehingga sebagian harus mencari pekerjaan tambahan atau menghadapi persoalan keuangan. Di sisi lain, Indonesia masih mengalami kekurangan sekitar 679 ribu guru serta persoalan distribusi tenaga pendidik yang belum merata. Dengan sekitar 64,3 juta peserta didik aktif dan jutaan anak usia sekolah, kebutuhan terhadap guru yang cukup, berkualitas, dan sejahtera menjadi semakin mendesak.

Selain persoalan kesejahteraan dan status kepegawaian, guru juga dituntut meningkatkan kompetensi untuk menghadapi transformasi digital dalam pendidikan. Pemanfaatan teknologi, mulai dari pembelajaran jarak jauh, video conference, media interaktif hingga kecerdasan buatan, mengharuskan guru memiliki literasi dan keterampilan digital yang memadai. Namun, masih terdapat berbagai hambatan, seperti keterbatasan akses perangkat dan internet, minimnya pelatihan berkelanjutan, serta tingginya beban administrasi. Karena itu, program peningkatan talenta digital seperti Digital Talent Scholarship dinilai perlu diperluas dan disesuaikan dengan kebutuhan komunitas guru agar transformasi teknologi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja.

Pemerintah dan DPR juga terus membahas penguatan status dan kesejahteraan guru, termasuk penyelesaian status guru PPPK paruh waktu, PPPK penuh waktu, serta peluang pengangkatan menjadi PNS. Meski pemerintah belum merencanakan kenaikan gaji guru pada 2027, peluang tersebut tetap terbuka apabila kondisi fiskal memungkinkan. Pada akhirnya, perbaikan kesejahteraan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi dan kepastian status kepegawaian. Investasi terhadap jutaan guru bukan hanya menyelesaikan persoalan tenaga pendidik, tetapi juga menentukan kualitas puluhan juta anak Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan masa depan.

Search