Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional berada pada angka 19,8% dan menunjukkan tren penurunan, namun persoalan ini masih kompleks dan multidimensi. Stunting bukan sekadar isu tinggi badan atau kekurangan asupan gizi, melainkan berdampak pada perkembangan kognitif, daya tahan tubuh, produktivitas jangka panjang, dan kualitas sumber daya manusia. Anak yang tampak aktif sekalipun dapat mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang tidak langsung terlihat. Karena itu, penanganan stunting tidak cukup hanya melalui edukasi gizi dan pemberian makanan tambahan, melainkan memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.
Secara struktural, stunting dipengaruhi oleh kesehatan ibu, sanitasi, akses air bersih, kemiskinan, serta ketimpangan layanan kesehatan antarwilayah. Proses stunting bahkan dapat dimulai sejak masa kehamilan, sehingga intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan menjadi krusial. Berbagai pihak telah berkontribusi melalui pendekatan kolaboratif, seperti penguatan layanan kesehatan ibu dan bayi, pendampingan tenaga kesehatan, serta dukungan pembiayaan untuk wilayah rentan seperti Papua. Sinergi pemerintah, organisasi pembangunan, dan sektor swasta menjadi bagian penting dalam memperkuat intervensi dari hulu ke hilir.
Selain gizi dan kesehatan ibu, akses air bersih dan sanitasi layak merupakan determinan penting yang kerap terabaikan. Tanpa lingkungan yang sehat, anak rentan mengalami infeksi yang menghambat penyerapan nutrisi. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur air bersih dan penguatan layanan dasar menjadi bagian integral dari strategi penurunan stunting. Target pemerintah menurunkan prevalensi menjadi 14% hanya dapat tercapai melalui koordinasi lintas sektor yang efektif dan keterlibatan multipihak. Jika stunting terus dipersempit sebagai persoalan gizi semata, maka intervensi akan tetap parsial, padahal yang dipertaruhkan adalah daya saing dan kualitas generasi masa depan Indonesia.
