Kenaikan BI Rate Jadi Beban Emiten Berutang Tinggi, Saham Bank Diuntungkan

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dinilai memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor di pasar modal, terutama emiten properti, teknologi, dan perusahaan dengan tingkat utang tinggi. Di sisi lain, sektor perbankan dan konsumer primer alias noncyclicals diperkirakan mendapat sentimen positif di tengah era suku bunga tinggi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan sektor properti dan real estate menjadi salah satu sektor yang paling rentan terdampak negatif ketika suku bunga naik. Menurutnya, kenaikan BI Rate berpotensi langsung mendorong kenaikan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Selain properti, sektor teknologi juga berpotensi menghadapi tekanan. Mayoritas perusahaan teknologi masih mengandalkan pendanaan eksternal untuk melakukan ekspansi bisnis. Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga cenderung menekan valuasi saham-saham berbasis pertumbuhan yang banyak di sektor teknologi.

Sektor perbankan, terutama kelompok bank besar KBMI IV, justru diperkirakan memperoleh keuntungan dalam jangka pendek. Kondisi ini berpotensi memperlebar Net Interest Margin (NIM). Selain perbankan, sektor konsumer primer atau noncyclicals juga dinilai relatif defensif di tengah kenaikan suku bunga.

Search