Kementerian Kesehatan mengungkap sekitar 30 persen lansia di Indonesia terindikasi mengalami demensia, termasuk Alzheimer yang menjadi salah satu jenis paling umum. Kondisi ini dinilai semakin serius seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia sejak Indonesia memasuki era aging population pada 2021. Demensia tidak hanya berdampak pada kesehatan lansia, tetapi juga menambah beban sosial, ekonomi, dan psikologis keluarga pendamping.
Gejala demensia umumnya meliputi penurunan daya ingat, kesulitan berpikir, perubahan perilaku, hingga menurunnya kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Risiko penyakit ini dipengaruhi oleh faktor usia, penyakit tidak menular, kurang aktivitas fisik, dan rendahnya stimulasi kognitif. Kemenkes juga menyoroti masih banyak masyarakat yang menganggap pikun sebagai hal normal pada lansia, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan demensia yang memerlukan penanganan medis.
Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, Kemenkes mendorong deteksi dini, edukasi keluarga, serta penguatan layanan kesehatan lansia di fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas. Pemerintah juga mengajak masyarakat menciptakan lingkungan yang lebih ramah lansia agar mereka tetap sehat, mandiri, dan aktif secara sosial. Langkah ini penting karena jumlah lansia di Indonesia diperkirakan terus meningkat hingga mencapai sekitar 20 persen populasi pada 2045.
