Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Tatang Muttaqin menegaskan bahwa keberadaan mitra industri merupakan syarat mendasar dalam pendirian sekolah menengah kejuruan (SMK). Menurutnya, kurikulum SMK disusun melalui kolaborasi antara sekolah dan dunia industri agar pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga berbasis praktik melalui konsep teaching factory, yakni model pembelajaran yang meniru sistem kerja industri secara langsung di lingkungan sekolah.
Berdasarkan hasil tracer study Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, SMK yang memiliki lebih banyak dan lebih erat kemitraan dengan industri terbukti memiliki tingkat keberhasilan kerja lulusan yang lebih tinggi. Hal ini karena kompetensi yang diajarkan sesuai kebutuhan dunia kerja, sekaligus membantu sekolah memenuhi kebutuhan mesin pembelajaran berteknologi tinggi yang harganya dapat mencapai Rp500–800 juta melalui skema kerja sama industri.
Selain itu, Kemendikdasmen mendorong pelaksanaan praktik kerja lapangan (PKL) minimal enam bulan agar siswa memperoleh pengalaman kerja yang utuh. Tiga bulan pertama biasanya digunakan untuk adaptasi dan pembelajaran, sementara tiga bulan berikutnya menjadi fase produktif praktik kerja. Durasi PKL bahkan dapat diperpanjang sesuai kesiapan sekolah, siswa, dan perusahaan, sebagaimana praktik di Dinas Pendidikan Jawa Barat yang menerapkan PKL hingga satu tahun dengan tetap mempertimbangkan faktor biaya dan kesiapan peserta didik.
