Kasus Bocah SD di Ngada Meninggal Dunia, Psikolog Soroti Beban Mental dan Kemiskinan pada Anak

Kasus kematian tragis YBR, seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar mengenai kondisi psikologis anak-anak yang tumbuh dalam jeratan kemiskinan ekstrem. YBR dikenal sebagai anak yang memikul tanggung jawab besar di usia dini, mulai dari membantu neneknya mencari kayu bakar hingga menjadi tulang punggung emosional keluarga. Kondisi ini memicu keprihatinan dari berbagai kalangan, termasuk pakar psikologi. Fitriatul Masruroh, psikolog dari Lembaga Pelayanan Psikologi (LPP) EKSHAFIT Banyuwangi, menilai situasi yang dialami YBR sebagai beban perkembangan yang muncul sebelum waktunya.

Menurutnya, anak-anak seharusnya fokus pada pembentukan rasa aman dan kelekatan, bukan memikirkan keberlangsungan hidup. Fitriatul menjelaskan bahwa kemiskinan terus-menerus bukan sekadar masalah material, melainkan sumber stres kronis. Sistem psikologis anak dipaksa berada dalam kondisi “siaga” untuk bertahan hidup, sehingga kapasitas mental yang seharusnya digunakan untuk bermain dan belajar justru terkuras oleh kecemasan masa depan.

Search